“RISE of THE ECO WARIORS” Berjuang Menyelamatkan Hutan Kalimantan Melalui Film

“RISE of THE ECO WARIORS” Berjuang Menyelamatkan Hutan Kalimantan Melalui Film

penulis : Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa, S.Sn, M.Sn

(Dosen Program Studi Film dan Televisi ISI Denpasar)

Hari Selasa, tanggal 2 Agustus 2016 lalu, Himpunan Mahasiswa Jurusan Film dan Televisi (HMJ FTV) ISI Denpasar berhasil menyelenggarakan pemutaran film “Rise of The Eco Wariors” dan mengundang produser film tersebut, Mr. Mark White, untuk menjadi narasumber dalam diskusi. Film yang telah dirilis sejak tahun 2014 lalu ini memberi sebuah pengalaman baru bagi seluruh penonton. Mengangkat tema tentang hancurnya hutan hujan tropis di Kalimantan akibat industri minyak kelapa sawit, film ini menghadirkan fakta mengenai nasib orang utan hingga penduduk asli suku Dayak di masa kini. Banyak dari penonton yang menarik nafas panjang bahkan menangis di sepanjang film. Menyaksikan penderitaan orangutan, melihat hancurnya hutan hingga perjuangan suku Dayak menyelamatkan hutan memberikan sebuah pemahaman baru tentang seriusnya permasalahan lingkungan kita saat ini.

Rise of The Eco Wariors adalah sebuah film yang diproduksi dengan cara yang sangat berbeda dengan film lainnya. Hal ini menjadi tema menarik dalam acara diskusi. Para penonton yang kebanyakan adalah mahasiswa Program Studi Film dan Televisi ISI Denpasar menanyakan bagaimana cara sang produser mengumpulkan dana demi berjalannya produksi, sulitnya proses syuting  di pedalaman Kalimantan, hingga proses distribusi film yang tentu saja tidak bisa masuk ke industri komersial karena tema aktivisme yang diangkatnya.

Mr.White, sang produser, mengakui bahwa pada awalnya yang Beliau miliki hanyalah sebuah ide tentang film ini. Beliau bahkan belum tahu bagaimana mewujudkan ide tersebut. Namun sebagai seorang produser beliau menyadari peran sosial media bagi kehidupan saat ini. Hal itulah yang kemudian berusaha dimanfaatkan dalam proses produksi Rise of The Eco Wariors. Dari masa pra-produksi termasuk proses pemilihan pemain, masa produksi, hingga pasca produksi, sosial media memegang peranan penting bagi film ini. Kuncinya adalah membangun komunitas di sosial media yang kemudian menjadi dukungan utama dalam terwujudnya Rise of The Eco Wariors. Beliau mengatakan bahwa ini adalah cara yang baik bagi para pembuat film pemula jika ingin menghasilkan sebuah film.

“Mulailah bicara di sosial media, beritahu sebanyak mungkin orang tentang ide Anda dan seberapa ingin Anda mewujudkannya. Sosial media akan membukakan jalan dan kesempatan bagi ide tersebut untuk terwujud,” kata Mr.White.

Menariknya, Mr. White dan sang sutradara, Cathy Henkel, sejak awal memang ingin menghasilkan sebuah film dokumenter yang berbeda dengan dokumenter biasa. Mereka ingin menghasilkan dokumenter aksi, dimana para penonton kemudian dapat terbawa dan ikut merasakan seolah-olah mereka ada di dalam cerita tersebut. Keinginan mereka nampaknya tercapai melalui Rise of The Eco Wariors. Sebagian besar penonton setelah menyaksiskan film ini menyadari bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak besar pada kehidupan manusia, bahwa tindakan sekecil apa pun akan memberi pengaruh bagi kehidupan. Banyak dari penonton yang kemudian menyatakan akan mengurangi konsumsi sawit demi membantu menyelamatkan hutan di Kalimantan, hutan hujan terakhir yang masih tersisa di dunia.

Diskusi kemudian berlanjut dengan tambahan informasi dari Ade Zuchri, agen Sarekat Hijau Indonesia (Indonesia Green Union) - organisasi yang membawa film Rise of Eco Wariors keliling Indonesia. Ade memberi pengetahuan tambahan kepada mahasiswa tentang cara-cara mudah untuk menjadi Eco Wariors (pejuang lingkungan) dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, menghemat konsumsi air dan tentu saja mengurangi konsumsi miyak sawit dan produk olahannya.

Acara pemutaran film dan diskusi ini kemudian diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dan piagam penghargaan dari HMJ FTV dan Program Studi Film dan Televisi ISI Denpasar kepada Mr.White dan Ade Zuchri. Terselenggaranya acara ini merupakan sebuah prestasi bagi HMJ FTV dan Program Studi Film dan Televisi ISI Denpasar mengingat film Rise of The Eco Wariors telah diputar di 12 negara dan menjadi nominasi di beberapa ajang penghargaan film internasional. Acara ini juga berhasil memberikan pemahaman dan pengalaman baru, tidak hanya pengetahuan tentang film namun juga menambah kesadaran tentang permasalahan lingkungan hidup saat ini dan apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikannya.

Comments are closed.