FSRD ISI Denpasar Gelar acara Bali art Selection Workshop Wayang Prasi

FSRD ISI Denpasar Gelar acara Bali art Selection Workshop Wayang Prasi

Kiriman : Eldiana Tri Narulita

Masih dalam rangkaian acara Bali art selection, pada hari selasa 26 September 2017 digelar workshop wayang prasi di fakultas seni rupa dan desain ISI Denpasar. Workshop ini diikuti oleh 100 orang peserta dari program studi desain komunikasi visual dan kriya. Acara ini dibuka oleh Bapak rektor ISI Denpasar yang di wakili oleh wakil rektor II Bpk. Drs.I Gusti Seramasara,M.Hum. Beliau menyampaikan bahwa prasi adalah seni komik Bali,Seni lukis prasi  merupakan salah satu karya seni rupa tradisional Bali, termasuk warisan budaya nenek moyang yang memiliki nilai estetika tinggi dan mempunyai karakteristik tersendiri. Sedangkan ketua acara ini yakni Bapak Wakil Dekan III FSRD, A.A Gde Bagus Udayana,S.Sn,M.Sn, memyampaikan bahwasanya tujuan diadakan workshop ini adalah membuat komik prasi menjadi global,atau istilah saat ini glokalisasi, sehingga prasi ini semakin dikenal dan diminati di era moden khususnya generasi muda.

Workshop wayang prasi ini dipandu oleh instruktur yang telah diterkenal ahli dibidang prasi yaitu Bapak I Wayan Mudita Adnyana. Beliau adalah seniman prasi yang sangat terkenal dan karya-karya prasinya telah mendunia. Beliau sendiri berasal dari Banjar Tengah,Tenganan Pegringsingan,Karangasem. Lahir sekitar tahun 1931. Dari tahun 1970 an Beliau telah menekuni seni prasi. Menurut Pekak (kakek) Mudita, beliau mengetahui istilah ini di museum Gedong Kirtya (Buleleng) bahwa seni melukis komik Bali ini disebut prasi.

Di Tenganan sendiri sebenarnya seni prasi sudah lama ada, namun mulai aktif lagi setelah gunung agung meletus (setelah tahun 1963) karena masyarakat yang rata-rata pencahariannya petani saat itu tidak bisa bercocok tanan lagi. Sebab tanamannya banyak yang gagal panen&tanah menjadi tidak subur akibat letusan gunung agung. Maka mereka kembali menekuni seni prasi untuk mata pencahariannya. Di Tenganan sendiri berawal didesaWanasari, saat itu belum ada pakem prasi,lontar bergambar mulai dikenal saat ada tamu dari Swiss bernama Theo Myer yang berkata pada Bapak Mudita “tolong buatkan lontar bergambar, nanti saya tunjukkan kemasyarakat”, saat itu cerita yang dibuat mengenai tantri( cerita tantri/ satua Ni Diah Tantri, menceritakan tentang tingkah laku para binatang yang didongengkan oleh Ni Diah Tantri pada raja Kerajaan Patali Nagatum yaitu Prabu Eswarya. Prasi saat tahun 1970 an harganya Rp. 2500 dan pada tahun 1983  Karya Pak mudita sudah dipajang di Museum California, Amerika Serikat. Karyanya dikagumi Oleh Presiden Italia saat itu, Alesandro dan dihargai Rp.10.000/jilid.

Selain Pak Wayan Mudita, instruktur yang hadir untuk memandu jalannya workshop adalah  Ida Ayu Ketut Sasih, seniman Prasi dan sekaligus sekretaris desa Talibeng , Sidemen dan I Gusti Agung Rai Mayuni, sebagai pegawai dinas kebudayaan propinsi Bali yang sekaligus juga Seniman Prasi di Desa Sukahat, Sidemen, Karangasem.

Comments are closed.